Ramadhan: Api Penjernih Dosa dan Peluang Taubat yang Tak Tergantikan

 Ramadhan: Api Penjernih Dosa dan Peluang Taubat yang Tak Tergantikan

Al Fatah Putra Panatagama (Pena Pencerah)

Pena Pencerah - Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, ampunan, dan rahmat dari Allah SWT. Namun, di balik kemuliaannya, ternyata nama "Ramadhan" memiliki makna mendalam yang jarang diketahui banyak orang. Ustaz Agam, salah satu pengajar di Pondok Oemar Bin Khattab, Drokilo, Kedungadem, Bojonegoro, pernah menyampaikan penjelasan menarik tentang rahasia di balik penamaan bulan Ramadhan ini.

Menurut Ustaz Agam, kata Ramadhan berasal dari bahasa Arab yang tersusun dari tiga huruf, yaitu ر (Ra), م (Mim), dan ض (Dhad). Akar katanya adalah (رمض - يرمض) yang berarti panas yang menyengat atau terik matahari yang membakar segala sesuatu di atas tanah.

Dalam wawancara exlusive dengan Tim Pena Pencerah kajian tafsir yang beliau sampaikan, Ustaz Agam menjelaskan bahwa makna ini mengandung filosofi mendalam. Panas yang membakar dalam konteks Ramadhan diartikan sebagai proses pembakaran dosa-dosa yang pernah dilakukan hamba-Nya. Ketika seorang muslim bersungguh-sungguh dalam ibadah selama Ramadhan, maka dosa-dosanya seolah-olah dibakar habis, seperti tanah yang kering terbakar di bawah terik matahari.

Menariknya, Allah SWT menambahkan dua huruf pada kata Ramadhan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, yaitu huruf ا (Alif) dan ن (Nun), sehingga menjadi Ramadhan. Dalam ilmu bahasa Arab, tambahan ini dikenal sebagai Shighoh Mubalaghoh, yang berarti menunjukkan makna berlebihan atau sangat kuat. Artinya, Ramadhan tidak hanya sekadar membakar dosa, tetapi benar-benar menghanguskannya hingga bersih tanpa sisa bagi mereka yang bersungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah.

Ustaz Agam menegaskan bahwa pesan besar yang dapat dipetik adalah jangan menunda-nunda taubat. Ramadhan adalah kesempatan emas yang Allah berikan untuk membersihkan diri dari dosa. Banyak orang merasa yakin masih akan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya, padahal tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput.

Beliau juga mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia. “Kalau kita hanya menahan lapar, tapi lisan dan perilaku kita masih buruk, maka kita hanya akan mendapatkan rasa haus dan lapar saja,” ujar Ustaz Agam dalam kajiannya.

Di akhir penyampaiannya, Ustaz Agam mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, serta menanamkan keikhlasan dalam setiap amal kebaikan. Sebab, Ramadhan adalah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, memberikan kesempatan untuk kembali kepada-Nya dalam keadaan suci dari dosa.

Maka dari itu, mari kita manfaatkan Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya. Jangan berbangga diri dengan anggapan bahwa kita pasti akan menjumpai Ramadhan berikutnya. Selagi Allah masih memberi umur, segera bertaubat, tingkatkan ibadah, dan raihlah ampunan-Nya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ustaz Agam, “Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk menghanguskan dosa dan memperbaiki kualitas hidup kita sebagai hamba Allah.”(Oleh: Al Fatah Putra Panatagama*)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama