![]() |
Ilustrasi AI |
Penapencerah.com - Pernyataan bahwa "Pendidikan di Indonesia lebih banyak mencetak buruh daripada pemimpin" seakan menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Benarkah sistem pendidikan yang ada saat ini lebih berfokus pada melahirkan tenaga kerja daripada mencetak pemimpin yang mampu membawa perubahan?
Jika kita cermati, sebagian besar sistem pendidikan masih didominasi oleh pola yang menekankan hafalan, rutinitas, dan kepatuhan pada prosedur standar. Siswa didorong untuk menguasai teori tanpa banyak kesempatan untuk mengasah daya pikir kritis, kreativitas, dan kepemimpinan. Akibatnya, banyak lulusan yang mahir mengerjakan tugas, tetapi kurang percaya diri untuk mengambil inisiatif dan memimpin.
Padahal, Al-Qur'an menegaskan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab besar yang membutuhkan ilmu dan kepribadian yang kuat. Allah SWT berfirman:
"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As-Sajdah: 24)
Ayat ini menegaskan bahwa pemimpin sejati lahir dari pribadi yang berilmu, sabar, dan memiliki keyakinan kuat pada kebenaran. Pemimpin tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengarahkan, menginspirasi, dan membawa perubahan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa jiwa kepemimpinan sejatinya melekat pada setiap individu. Namun, potensi ini hanya akan berkembang jika pendidikan mampu membangun karakter yang kuat, jiwa tangguh, dan kemampuan berpikir strategis.
Untuk itu, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan keterampilan teknis. Perlu ada ruang bagi siswa untuk berlatih berpikir kritis, berani berpendapat, dan mengambil keputusan. Guru harus menjadi mentor yang membimbing siswa menemukan potensi terbaiknya, bukan sekadar pengajar yang menjejali mereka dengan teori semata.
Sekolah harus menjadi ladang subur bagi lahirnya pemimpin masa depan — pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan keberanian untuk membawa perubahan.
Kini saatnya pendidikan kita berbenah. Mari bersama membangun sistem yang tidak hanya mencetak pekerja, tetapi juga melahirkan pemimpin yang siap menghadapi tantangan zaman.
Karena dunia tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan sosok pemimpin yang berani, berintegritas, dan siap mengabdi untuk kebaikan bersama.
Posting Komentar