Menyiapkan Waktu, Bukan Menyisakan Waktu


Suasan AOLA COFFE Paciran Lamongan (Al Fatah Putra Panatagama/penapencerah.com)

Penapencerah.com - Ramadan adalah bulan yang istimewa, bulan diturunkannya Al-Qur'an. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

   شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185)

Maka, sangat wajar jika umat Islam berlomba-lomba untuk mengkhatamkannya selama bulan penuh berkah ini. Namun, kenyataan di lapangan sering kali tidak semudah niat yang terucap. Banyak dari kita yang awalnya bersemangat membaca Al-Qur'an, namun kemudian justru kehilangan ritme hingga akhirnya tertinggal jauh dari target.

Salah satu penyebab utamanya adalah kebiasaan menunda. "Nanti sore saja", "Nanti malam saja", atau "Besok pagi saja" adalah alasan yang kerap muncul. Penundaan ini biasanya disertai keyakinan bahwa masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan. Sayangnya, waktu terus berlalu, hingga tiba-tiba Ramadan sudah mendekati penghujung.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar kurangnya waktu, melainkan bagaimana kita mengatur prioritas. Banyak yang menganggap membaca Al-Qur'an adalah aktivitas yang bisa dilakukan "nanti", setelah pekerjaan dan urusan lain selesai. Padahal, jika kita hanya menyisakan waktu untuk Al-Qur'an, maka besar kemungkinan kita akan lupa atau melewatkannya.

Allah telah memerintahkan kita untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil, penuh perhatian dan kesungguhan:

 وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil (perlahan-lahan dan jelas)." (QS. Al-Muzzammil: 4)

Kunci utamanya adalah menyiapkan waktu, bukan menyisakan waktu. Jika kita menganggap Al-Qur'an sebagai prioritas, maka kita harus menjadwalkan waktu khusus untuk membacanya. Bisa setelah Subuh, sebelum berbuka, atau sebelum tidur — yang penting waktu tersebut benar-benar diprioritaskan.

Disiplin dalam menjaga waktu ini akan menumbuhkan kebiasaan yang baik. Bahkan, tanpa terasa kita bisa terbiasa membaca Al-Qur'an lebih banyak dari yang ditargetkan. Ingatlah, orang yang istiqamah membaca Al-Qur'an dijanjikan pahala yang besar oleh Allah:

 إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَـٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an), melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi." (QS. Fathir: 29)

Maka, mari kita introspeksi diri. Ramadan yang telah berjalan separuh bulan ini adalah momen yang tepat untuk mengevaluasi komitmen kita. Jangan sampai kita hanya bersemangat di awal, lalu mengendur di pertengahan, hingga akhirnya menyesal di akhir.

Siapkan waktu terbaik untuk Al-Qur'an, agar Ramadan ini menjadi momentum terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kita semua termasuk golongan yang diberikan kekuatan untuk menjaga komitmen ini hingga akhir Ramadan dan seterusnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama