KPOB Terhenti, Bagaimana Nasib Atlet Muda Bojonegoro?

 KPOB Terhenti, Bagaimana Nasib Atlet Muda Bojonegoro?

Ilustras Al

Pena Pencerah - Kabar bahwa Kartu Pembinaan Olahraga Berprestasi (KPOB) tidak bisa dilaksanakan tahun ini tentu menjadi pukulan berat, khususnya bagi para pelajar berprestasi di bidang olahraga. Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menjadi angin segar bagi siswa jenjang SD hingga SMA yang memiliki bakat olahraga namun terkendala biaya.

KPOB tidak sekadar memberikan insentif berupa uang—Rp 500 ribu untuk siswa SD, Rp 600 ribu untuk siswa SMP, dan Rp 700 ribu untuk siswa SMA—melainkan juga menjadi simbol perhatian pemerintah terhadap potensi generasi muda. Dengan bantuan ini, banyak siswa terbantu dalam memenuhi kebutuhan peralatan latihan maupun biaya lain yang mendukung pengembangan bakat mereka.

Terhentinya program ini berpotensi menimbulkan dampak serius. Banyak atlet muda berbakat yang mungkin tidak lagi mampu mengikuti kejuaraan karena terkendala dana. Padahal, pembinaan usia dini adalah kunci melahirkan atlet profesional yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

Islam mengajarkan pentingnya mendukung potensi generasi muda agar mereka berkembang dengan baik. Rasulullah SAW bersabda:

"Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi bagian dari pendidikan dan pengembangan diri yang berharga. Jika peluang pengembangan bakat di bidang olahraga terhambat karena ketiadaan dukungan, maka potensi emas dari para siswa ini bisa saja sirna.

Selain KPOB, beberapa program lain dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) juga terancam terdampak efisiensi anggaran. Hal ini tentu menjadi tantangan besar, mengingat investasi pada dunia olahraga tidak hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang pembentukan karakter, disiplin, dan kesehatan generasi muda.

Sebagai masyarakat, kita patut mendorong agar ada solusi terbaik bagi kelanjutan KPOB. Bisa jadi, kerja sama dengan pihak swasta, organisasi kepemudaan, maupun lembaga sosial seperti Lazismu bisa menjadi alternatif untuk mengisi kekosongan ini. Jangan sampai bibit-bibit unggul di dunia olahraga justru kehilangan harapan karena minimnya dukungan.

Pemerintah daerah bersama stakeholder terkait seharusnya mencari langkah strategis agar KPOB dapat berlanjut, meski mungkin dengan skala yang lebih kecil atau skema yang lebih kreatif. Harapannya, atlet-atlet muda Bojonegoro tetap bisa berprestasi dan mengharumkan nama daerah, meski badai efisiensi anggaran sedang melanda.(Oleh: Samsul Arifin*)



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama