Keris dan Identitas Muslim: Antara Budaya dan Keimanan yang Lurus



Keris dalam Perspektif Islam: Antara Warisan Budaya dan Akidah yang Lurus (penapencerah.com)

Penapencerah.com - Dalam khazanah budaya Nusantara, keris bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol filosofi, seni, dan sejarah yang mendalam. Bagi sebagian masyarakat, keris mewakili kehormatan, kewibawaan, hingga identitas leluhur yang harus dijaga. Namun, sebagai umat Islam, penting bagi kita untuk memandang keris secara bijak agar tidak terjerumus ke dalam pemahaman yang keliru.

Keris Sebagai Warisan Budaya

Islam tidak menentang budaya lokal selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat. Sejarah menunjukkan bahwa para ulama dan wali songo yang menyebarkan Islam di Nusantara tidak menolak tradisi setempat, melainkan memasukkan nilai-nilai tauhid ke dalamnya. Keris, yang pada masa lalu menjadi simbol ksatria dan keberanian, seharusnya dilihat sebagai karya seni bernilai tinggi yang mencerminkan kreativitas dan kearifan lokal.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

Pesan ini menegaskan bahwa Islam datang bukan untuk meniadakan tradisi yang baik, tetapi untuk meluruskannya agar sesuai dengan prinsip akidah yang benar.

Bahaya Pemahaman Mistis

Sayangnya, sebagian masyarakat masih mengaitkan keris dengan hal-hal mistis. Ada yang percaya bahwa keris memiliki kekuatan gaib yang bisa mendatangkan keberuntungan, melindungi dari bahaya, atau bahkan memiliki 'penunggu' yang harus dirawat dengan ritual tertentu. Keyakinan semacam ini bertentangan dengan prinsip tauhid yang mengajarkan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu.

Allah SWT berfirman:

 "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudharat kepadamu selain Allah..." (QS. Yunus: 106)

Menyandarkan harapan atau perlindungan kepada benda tertentu adalah bentuk kemusyrikan yang harus dihindari.

Melestarikan dengan Bijak

Sebagai Muslim, kita tetap dapat menghargai keris sebagai simbol sejarah, identitas budaya, dan karya seni yang berharga. Melestarikannya dalam bentuk pajangan, koleksi, atau bahan kajian budaya adalah langkah yang baik selama tidak disertai keyakinan mistis. Justru, ini menjadi peluang bagi umat Islam untuk menunjukkan bahwa budaya bisa dilestarikan tanpa mengorbankan kemurnian akidah.

Penutup

Keris, seperti halnya warisan budaya lainnya, dapat menjadi bagian dari identitas bangsa yang berharga. Namun, sebagai umat Islam, kita harus menempatkan budaya dalam koridor tauhid yang benar. Mari kita jadikan tradisi sebagai media dakwah yang mencerahkan, bukan sebagai jalan yang menjerumuskan pada kesyirikan.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW:

 "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu." (HR. Tirmidzi)

Melestarikan budaya boleh, tetapi iman dan tauhid harus tetap menjadi pijakan utama. Inilah hakikat pencerahan yang sesungguhnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama