KEHIDUPAN BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
![]() |
Gambar: www.freepik.com |
Pendahuluan
Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam hidup dalam kondisi sosial dan budaya yang khas. Mereka memiliki adat istiadat yang kuat, nilai-nilai tertentu yang dijunjung tinggi, dan kepercayaan yang beragam. Pemahaman tentang kehidupan bangsa Arab pra-Islam sangat penting untuk memahami bagaimana Islam hadir sebagai agama yang membawa perubahan besar bagi masyarakat dunia.
1. Kondisi Geografis Jazirah Arab
Jazirah Arab terletak di kawasan Asia Barat Daya, dikelilingi oleh Laut Merah di sebelah barat, Teluk Persia di sebelah timur, dan Laut Arab di bagian selatan. Wilayah ini sebagian besar merupakan padang pasir yang tandus dan kering.
Meskipun demikian, terdapat beberapa daerah subur yang mendukung kehidupan masyarakat, seperti wilayah Yaman di bagian selatan yang dikenal dengan kesuburan tanahnya, serta oasis-oasis yang tersebar di berbagai wilayah. Kota Makkah dan Yatsrib (Madinah) menjadi pusat penting bagi jalur perdagangan di Jazirah Arab.
Pengaruh Geografis Terhadap Kehidupan Masyarakat:
Polanya Nomaden: Mayoritas masyarakat hidup secara nomaden, berpindah-pindah untuk mencari sumber air dan padang rumput bagi ternak mereka.
Pusat Perdagangan: Masyarakat yang tinggal di kota besar seperti Makkah umumnya menetap dan menjalankan aktivitas perdagangan.
Letak Strategis: Jazirah Arab yang strategis menjadikannya jalur penting perdagangan internasional pada masa itu.
(Philip K. Hitti, History of the Arabs, 2002)
2. Struktur Sosial Masyarakat Arab
Masyarakat Arab pra-Islam terbagi dalam suku-suku (kabilah) yang memiliki pemimpin (syaikh) sebagai tokoh yang dihormati. Kabilah ini berperan penting dalam menjaga keamanan, mengatur perdagangan, dan menyelesaikan perselisihan.
Struktur Sosial:
Kaum Bangsawan (Asyraf): Kelompok elite yang memiliki kekayaan dan pengaruh besar dalam masyarakat.
Pedagang dan Petani: Golongan menengah yang aktif dalam perdagangan, pertanian, dan peternakan.
Budak: Kelompok yang tidak memiliki hak sosial dan sering diperjualbelikan.
Sistem ini menempatkan kesetiaan pada kabilah di atas segalanya, sehingga perang antar kabilah kerap terjadi.
(Karen Armstrong, Islam: A Short History, 2000)
3. Kondisi Kepercayaan dan Agama
Bangsa Arab pra-Islam menganut kepercayaan politeisme (menyembah banyak dewa). Mereka memuja berhala yang disimpan di sekitar Ka’bah di Makkah. Selain itu, terdapat pula kelompok yang menganut kepercayaan Hanif, yakni ajaran tauhid yang masih mempertahankan nilai-nilai keesaan Tuhan.
Jenis Kepercayaan:
Paganisme: Mayoritas bangsa Arab menyembah berhala seperti Latta, Uzza, dan Manat.
Yudaisme dan Kristen: Sebagian masyarakat Arab, khususnya di Yaman dan Najran, menganut agama Yahudi dan Kristen.
Kepercayaan Hanif: Kelompok kecil yang meyakini keesaan Allah tanpa berhala.
(W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca, 1953)
4. Kondisi Ekonomi
Ekonomi bangsa Arab pra-Islam didominasi oleh perdagangan, terutama di kota-kota besar seperti Makkah. Kafilah dagang membawa barang dari Yaman, Syam (Suriah), hingga Persia. Selain perdagangan, sektor pertanian berkembang di wilayah subur seperti Yaman.
Mata Pencaharian Utama:
Perdagangan: Barang dagangan meliputi rempah-rempah, parfum, kulit, dan hasil bumi.
Peternakan: Bagi masyarakat nomaden, beternak unta dan kambing menjadi sumber penghidupan utama.
Pertanian: Terbatas di wilayah yang memiliki sumber air seperti Yaman dan oasis.
(Irfan Shahid, Byzantium and the Arabs in the Sixth Century, 1989)
5. Kondisi Sosial dan Budaya
Masyarakat Arab pra-Islam dikenal dengan tradisi sastra yang tinggi, terutama syair dan pidato yang berisi kebanggaan terhadap kabilah, keberanian, dan kehormatan.
Tradisi Utama:
Syi’ir: Puisi dan syair menjadi media utama untuk mengekspresikan kebanggaan suku dan sejarah mereka.
Majelis: Forum diskusi dan pertemuan adat yang biasa diadakan di sekitar Ka'bah atau pasar.
Bangsa Arab pra-Islam juga memiliki tradisi yang dikenal dengan istilah jahiliyyah, yakni gaya hidup yang sarat dengan kekerasan, kesukuan yang kuat, dan praktik yang bertentangan dengan nilai moral yang tinggi.
(J. Wellhausen, The Religio-Political Factions in Early Islam, 1975)
Penutup
Kehidupan bangsa Arab sebelum Islam ditandai dengan sistem sosial yang beragam, budaya yang kaya, dan tradisi perdagangan yang maju. Islam hadir sebagai penanda perubahan besar yang membawa nilai-nilai tauhid, keadilan sosial, dan persatuan yang mendalam bagi bangsa Arab dan dunia secara luas. (Oleh: Samsul Arifin*)
Referensi:
Philip K. Hitti, History of the Arabs, 2002
Karen Armstrong, Islam: A Short History, 2000
W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca, 1953
Irfan Shahid, Byzantium and the Arabs in the Sixth Century, 1989
J. Wellhausen, The Religio-Political Factions in Early Islam, 1975
Posting Komentar